Tampilkan postingan dengan label Manfaat Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manfaat Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran


Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran – Tawuran, kali ini DaunSingkong akan menjelaskan beberapa Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran. Kejadian ini adalah suatu hal yang sering atau bahkan biasa kita dengar, seakan – akan Tawuran ini sudah menjadi budaya di antara para pelajar. Sampai-sampai terjadi korban jiwa. Dan sungguh sadis, tawuran kali ini bukan hanya dengan main tangan, tetapi lebih dari itu menggunakan senjata tajam.



Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran



Sebenarnya ada beberapa faktor yang kami amati sebagai penyebab tawuran, yaitu kami bagi menjadi faktor internal maupun eksternal.


Faktor Internal


1. Kurangnya pondasi agama


Faktor internal yang paling besar adalah kurangnya didikan agama.  Jika pendidikan agama yang diberikan mulai dari rumah sudahlah bagus atau jadi perhatian, tentu anak akan memiliki akhlak yang mulia. Dengan akhlak mulia inilah yang dapat memperbaiki perilaku anak. Ketika ia sudah merasa bahwa Allah selalu mengamatinya setiap saat dan di mana pun itu, pasti ia mendapatkan petunjuk untuk berbuat baik dan bersikap lemah lembut. Inilah keutamaan pendidikan agama.


2. Lingkungan


Faktor lainnya yang ini masih masuk faktor internal adalah lingkungan pergaulan yang jelek. Dari lingkungan pergaulan yang jelek akan membuat seseorang terpengaruh dengan lingkungan itu sendiri.


Faktor Eksternal


1. Kurangnya perhatian dari orang tua.


Saat ini pendidikan anak sudah diserahkan penuh pada sekolah. Orang tua (ayah dan ibu) hanya sibuk untuk cari nafkah mulai selepas fajar hingga matahari tenggelam. Sehingga kesempatan bertemu dan memperhatikan anak amat sedikit. Jadinya, tempat curhat dan cari perhatian si anak adalah pada teman-temannya. Kalau yang didapat lingkungan yang jelek, akibatnya ia pun akan ikut rusak dan brutal. Beda halnya jika ibunya berdiam di rumah. Tentu dia akan lebih memperhatikan si anak. Inilah mengapa di antara hikmah Allah memerintahkan wanita untuk berdiam di rumah.


2. Faktor ekonomi


Biasanya para pelaku tawuran adalah golongan pelajar menengah ke bawah. Disebabkan faktor ekonomi mereka yang pas-pasan bahkan cenderung kurang membuat membuat mereka melampiaskan segala ketidakberdayaannya lewat aksi perkelahian. Karena di antara mereka merasa dianggap rendah ekonominya dan akhirnya ikut tawuran agar dapat dianggap jagoan. Jika anak walau ia berekonomi menengah ke bawah menyadari bahwa tidak perlu iri pada orang yang berekonomi tinggi karena seseorang bisa mulia di sisi Allah adalah dengan takwa. Pemahaman seperti ini tentu saja bisa didapat jika si anak mendapatkan pendidikan agama yang baik.


Jadi, yang terpenting dari ini semua adalah pendidikan agama dan pembinaan iman, dan tentunya peran orangtua juga tidak kalah penting. Itu semua adalah  faktor penting yang membuat anak tercegah dari tawuran.


Sekian penjelasan mengenai beberapa Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Sobat DS semua …



Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah


Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah – Mutu pendidikan di Indonesia memang bisa dibilang rendah yang disebabkan oleh alasan – alasan tertentu. Kali ini DaunSingkong akan mengulas beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah.



Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah



Dibawah ini adalah beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah:


1. Pembelajaran hanya fokus pada buku paket


Kira – kira sudah lewat beberapa tahun kurikulum di Indonesia telah berganti yang tadinya  KBK menjadi KTSP. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? Tidak, karena pembelajaran di sekolah sejak zaman dulu masih memakai kurikulum buku paket. Sejak era 60-70an, pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi acuan dan guru tidak mencari sumber referensi lain.


2. Proses mengajar masih fokus pada satu arah


Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode berceramah satu arah. Karena berceramah itu mudah dan ringan, tanpa modal, tanpa tenaga, tanpa persiapan yang rumit.  Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang dipakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar dikuasai sebagain besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar ? Pernahkah guru membawa siswanya melakukan percobaan di alam lingkungan sekitar ? Atau pernahkah guru membawa seorang ilmuwan langsung datang di kelas untuk menjelaskan profesinya?


3. Sarana belajar yang kurang memadai


Sebenarnya, perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang cukup. Masih banyak sarana belajar di beberapa sekolah khususnya daerah, tertinggal jauh dibandingkan sarana belajar di sekolah-sekolah yang berada di kota.


4. Aturan yang mengikat


Ini tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sekolah seharusnya memiliki kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya.


5. Guru tak Menanamkan Diskusi Dua Arah


Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah diseragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. seolah-olah Anak “Dipaksa” mendengar dan mendapatkan informasi sejak pagi sampai siang, belum lagi ada sekolah yang menerapkan Full Days. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya Siswa tidak dilatih untuk bertanya. Siswa tidak dibiasakan bertanya, akibatnya siswa tidak berani bertanya. Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.


6. Metode Pertanyaan Terbuka tak Dipakai


Contoh negara yang menggunakan pertanyaan terbuka adalah Finlandia. Dalam setiap ujian, siwa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka.


7. Budaya mencontek yang masih familiar


Siswa menyontek itu biasa terjadi. Tapi apakah kita tahu kalau “guru juga menyontek” ? Ini lebih parah. Lihatlah tes-tes yang diikuti guru, tes pegawai negeri yang diikuti guru, menyontek telah menjadi budaya sendiri.


Demikian adalaj penjelasan tentang beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Sobat DS semua, khususnya bagi para tenaga pendidik …



Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Betapa Pentingnya Pendidikan

Betapa Pentingnya Pendidikan


Betapa Pentingnya Pendidikan - Hallo Sobat DS, kali ini DaunSingkong akan menjelaskan Betapa Pentingnya Pendidikan. Pendidikan adalah salah satu hal yang penting yang harus kita perhatikan, pentingnnya pendidikan sangat terlihat jelas, bahkan sebagian orang menganggap pendidikan sudah menjadi kebutuhan pokok. Contoh saja melamar pekerjaan yang layak tentu membutuhkan ijazah sesuai dengan jabatan yang akan kita lamar. Jabatan yang tinggi tentunya membutuhkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi juga yang dibuktikan dengan ijazah. Tapi apakah ijazah yang notabene merupakan simbol tingkat pendidikan sesorang berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini patut kita perhatikan dan amati bersama, apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan dan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi tersebut.



Betapa Pentingnya Pendidikan

Betapa Pentingnya Pendidikan



Sejak lahir, tanpa disadari, kita sudah menerima pendidikan dari orang tua tentang banyak hal. Orang tua merupakan guru pertama kali bagi kita untuk bertanya hal-hal kecil hingga yang besar. Seiring berjalannya waktu, definisi pendidikan pun meluas. Kita tidak hanya mengenal dalam lingkungan keluarga, namun mencapai lingkungan masyarakat. Bahkan, lingkungan negara. Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pendidikan memegang unsur penting untuk membentuk pola pikir, akhlak, dan perilaku manusia agar sesuai dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat, budaya, dan lain-lain. Menurut Frederick J.Mc Donald dan M.J. Langeveld, pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah kebiasaan (behavior) manusia. Menurut John Dewey, pendidikan merupakan salah satu proses pembaharuan makna pengalaman. Hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Bahkan, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok tempat dia hidup.


Demikian adalah penjelasan tentang Betapa Pentingnya Pendidikan yang bisa DaunSingkong jelaskan, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Sobat Ds semua …



Betapa Pentingnya Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan


Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan – Memang Indonesia masih terbilang cukup kurang kalau ditinjau dari masalah sosial politik yang selalu mengkhawatirkan, namun dibalik itu ada sedikit cahaya yang membuat nama Indonesia sempat bersinar, yaitu cerita dari dunia pendidikan kita yang cukup membanggakan. Satu dekade terakhir, pendidikan Indonesia memang mengalami perkembangan yang memuaskan. Siswa-siswi Indonesia mulai sering mengikuti ajang-ajang kompetisi internasional. Ratusan medali penghargaan internasional telah diraih siswa-siswi Indonesia. Kali ini, Daunsingkong ingin menceritakan beberapa prestasi siswa-siswi Indonesia di kalangan internasional sepanjang tahun 2011 ini.



Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan



Bulan Mei 2011, tiga anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih penghargaan di ajang 12th Asian Physics Olimpiad (APhO) yang diselenggarakan di Tel Aviv, Israel. Evan Laksono dari SMAK IPEKA Tomang Jakarta meraih emas. Sedangkan Erwin Handoko Tanin dari SMA Sutomo 1 Medan dan Limiardi Eka Sancerio dari SMAK Penabur Gading Serpong Tangerang meraih gelar kehormatan Honorable Mention dalam ajang APhO 2011 tersebut. Dalam ajang 28th Senior Balkan Mathematical Olympiad (BMO) di Rumania, Indonesia meraih penghargaan dua penghargaan. Peter Tirtowijoyo Young dari SMP Kristen Petra 1 Surabaya dan  Monica Vanya Santoso Kartika dari SMA Santa Angela Bandung berhasil meraih medali perunggu pada ajang BMO ke-28 tersebut. Masih pada bulan yang sama, para pelajar Indonesia berhasil meraih penghargaan di ajang 18th International Conference of Young Scientist (ICYS) di Moscow, Rusia. Dalam ajang kompetisi antar peneliti muda itu, Indonesia berhasil mengumpulkan satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu. Jessica Lo dari SMAK Cita Hati Surabaya berhasil meraih medali emas dalam bidang Environmental Science. Luthfi Mu’awan dari SMAN 1 Purwareja dan Christy Hong dari SMA St. Laurensia Tangerang meraih medali perak dalam bidang Environmental Science dan Life Science. Sedangkan Ninda Frisky dan Annisa Fitriani dari SMAN 1 Yogyakarta serta Christa Lorenzia Soesanto dari SMP St. Laurensia Tangerang meraih medali perunggu. Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) kembali berjaya di ajang 42th International Physics Olympiad (IPhO) di Bangkok, Thailand, pada bulan Juli 2011. Dari lima anggota tim yang dikirim semuanya berhasil menyabet medali IPhO ke-42 tersebut. Erwin Wibowo dari SMAK BPK Penabur Gading Serpong meraih medali emas dan Kevin Ardian Fauzie dari SMA Santa Maria Pekanbaru meraih medali perak. Sementara itu, Farhan Nur Kholid dan Fathurrohim dari SMA Sragen Billingual Boarding School serta Imam Agung Raharja dari SMA Pribadi Depok berhasil meraih medali perunggu pada ajang IPhO yang diselenggarakan di Chulalongkom University tersebut.

Tim Olimpiade Kimia Indonesia (TOKI) juga berjaya di ajang 43th International Chemistry Olympiad di Ankara, Turki, pada bulan Juli 2011 lalu. Stephen Haniel Yuwono dari SMAN 1 Purwokerto dan Joses Gradi Nthanael dari SMAK Penabur Gading Serpong berhasil meraih medali emas. Andhika Tangguh Pradana dari SMA Kharisma Bangsa Tangerang Selatan dan Alimatun Nashira dari SMAN 1 Yogyakarta juga berhasil meraih medali perak. Indonesia juga meraih tiga perak dan satu perunggu dalam ajang 22th International Biology Olympiad di Taipei, Taiwan. Marsha Christanvia dari SMAK 5 Penabur Jakarta, Thoriq Salafi dari MAN Insan Cendikia Serpong, dan Afandi Charles dari SMA 78 Jakarta meraih medali perak. Sedangkan Husni Muarif dari SMA Taruna Nusantara Magelang meraih medali perunggu.


Sekian penjelasan tentang Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan yang bisa DaunSingkong jelaskan, semoga artikel ini bisa bermanfaat dan juga bisa menjadi motivasi bagi generasi bangsa Indonesia …



Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan