Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah


Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah – Mutu pendidikan di Indonesia memang bisa dibilang rendah yang disebabkan oleh alasan – alasan tertentu. Kali ini DaunSingkong akan mengulas beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah.



Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah



Dibawah ini adalah beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah:


1. Pembelajaran hanya fokus pada buku paket


Kira – kira sudah lewat beberapa tahun kurikulum di Indonesia telah berganti yang tadinya  KBK menjadi KTSP. Hampir setiap menteri mengganti kurikulum lama dengan kurikulum yang baru. Namun adakah yang berbeda dari kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah? Tidak, karena pembelajaran di sekolah sejak zaman dulu masih memakai kurikulum buku paket. Sejak era 60-70an, pembelajaran di kelas tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Apapun kurikulumnya, guru hanya mengenal buku paket. Materi dalam buku paketlah yang menjadi acuan dan guru tidak mencari sumber referensi lain.


2. Proses mengajar masih fokus pada satu arah


Metode pembelajaran yang menjadi favorit guru mungkin hanya satu, yaitu metode berceramah satu arah. Karena berceramah itu mudah dan ringan, tanpa modal, tanpa tenaga, tanpa persiapan yang rumit.  Metode ceramah menjadi metode terbanyak yang dipakai guru karena memang hanya itulah metode yang benar-benar dikuasai sebagain besar guru. Pernahkah guru mengajak anak berkeliling sekolahnya untuk belajar ? Pernahkah guru membawa siswanya melakukan percobaan di alam lingkungan sekitar ? Atau pernahkah guru membawa seorang ilmuwan langsung datang di kelas untuk menjelaskan profesinya?


3. Sarana belajar yang kurang memadai


Sebenarnya, perhatian pemerintah itu sudah cukup, namun masih kurang cukup. Masih banyak sarana belajar di beberapa sekolah khususnya daerah, tertinggal jauh dibandingkan sarana belajar di sekolah-sekolah yang berada di kota.


4. Aturan yang mengikat


Ini tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Sekolah seharusnya memiliki kurikulum sendiri sesuai dengan karakteristiknya.


5. Guru tak Menanamkan Diskusi Dua Arah


Lihatlah pembelajaran di ruang kelas. Sepertinya sudah diseragamkan. Anak duduk rapi, tangan dilipat di meja, mendengarkan guru menjelaskan. seolah-olah Anak “Dipaksa” mendengar dan mendapatkan informasi sejak pagi sampai siang, belum lagi ada sekolah yang menerapkan Full Days. Anak diajarkan cara menyimak dan mendengarkan penjelasan guru, sementara kompetensi bertanya tak disentuh. Anak-anak dilatih sejak TK untuk diam saat guru menerangkan, untuk mendengarkan guru. Akibatnya Siswa tidak dilatih untuk bertanya. Siswa tidak dibiasakan bertanya, akibatnya siswa tidak berani bertanya. Selesai mengajar, guru meminta anak untuk bertanya. Heninglah suasana kelas. Yang bertanya biasanya anak-anak itu saja.


6. Metode Pertanyaan Terbuka tak Dipakai


Contoh negara yang menggunakan pertanyaan terbuka adalah Finlandia. Dalam setiap ujian, siwa boleh menjawab soal dengan membaca buku. Guru Indonesia belum siap menerapkan ini karena masih kesulitan membuat soal terbuka.


7. Budaya mencontek yang masih familiar


Siswa menyontek itu biasa terjadi. Tapi apakah kita tahu kalau “guru juga menyontek” ? Ini lebih parah. Lihatlah tes-tes yang diikuti guru, tes pegawai negeri yang diikuti guru, menyontek telah menjadi budaya sendiri.


Demikian adalaj penjelasan tentang beberapa Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Sobat DS semua, khususnya bagi para tenaga pendidik …



Faktor Yang Menyebabkan Mutu Pendidikan Indonesia Rendah

Betapa Pentingnya Pendidikan

Betapa Pentingnya Pendidikan


Betapa Pentingnya Pendidikan - Hallo Sobat DS, kali ini DaunSingkong akan menjelaskan Betapa Pentingnya Pendidikan. Pendidikan adalah salah satu hal yang penting yang harus kita perhatikan, pentingnnya pendidikan sangat terlihat jelas, bahkan sebagian orang menganggap pendidikan sudah menjadi kebutuhan pokok. Contoh saja melamar pekerjaan yang layak tentu membutuhkan ijazah sesuai dengan jabatan yang akan kita lamar. Jabatan yang tinggi tentunya membutuhkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi juga yang dibuktikan dengan ijazah. Tapi apakah ijazah yang notabene merupakan simbol tingkat pendidikan sesorang berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini patut kita perhatikan dan amati bersama, apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan dan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi tersebut.



Betapa Pentingnya Pendidikan

Betapa Pentingnya Pendidikan



Sejak lahir, tanpa disadari, kita sudah menerima pendidikan dari orang tua tentang banyak hal. Orang tua merupakan guru pertama kali bagi kita untuk bertanya hal-hal kecil hingga yang besar. Seiring berjalannya waktu, definisi pendidikan pun meluas. Kita tidak hanya mengenal dalam lingkungan keluarga, namun mencapai lingkungan masyarakat. Bahkan, lingkungan negara. Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Pendidikan memegang unsur penting untuk membentuk pola pikir, akhlak, dan perilaku manusia agar sesuai dengan norma-norma yang ada, seperti norma agama, adat, budaya, dan lain-lain. Menurut Frederick J.Mc Donald dan M.J. Langeveld, pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah kebiasaan (behavior) manusia. Menurut John Dewey, pendidikan merupakan salah satu proses pembaharuan makna pengalaman. Hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Bahkan, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok tempat dia hidup.


Demikian adalah penjelasan tentang Betapa Pentingnya Pendidikan yang bisa DaunSingkong jelaskan, semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi Sobat Ds semua …



Betapa Pentingnya Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan


Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan – Memang Indonesia masih terbilang cukup kurang kalau ditinjau dari masalah sosial politik yang selalu mengkhawatirkan, namun dibalik itu ada sedikit cahaya yang membuat nama Indonesia sempat bersinar, yaitu cerita dari dunia pendidikan kita yang cukup membanggakan. Satu dekade terakhir, pendidikan Indonesia memang mengalami perkembangan yang memuaskan. Siswa-siswi Indonesia mulai sering mengikuti ajang-ajang kompetisi internasional. Ratusan medali penghargaan internasional telah diraih siswa-siswi Indonesia. Kali ini, Daunsingkong ingin menceritakan beberapa prestasi siswa-siswi Indonesia di kalangan internasional sepanjang tahun 2011 ini.



Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan



Bulan Mei 2011, tiga anggota Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih penghargaan di ajang 12th Asian Physics Olimpiad (APhO) yang diselenggarakan di Tel Aviv, Israel. Evan Laksono dari SMAK IPEKA Tomang Jakarta meraih emas. Sedangkan Erwin Handoko Tanin dari SMA Sutomo 1 Medan dan Limiardi Eka Sancerio dari SMAK Penabur Gading Serpong Tangerang meraih gelar kehormatan Honorable Mention dalam ajang APhO 2011 tersebut. Dalam ajang 28th Senior Balkan Mathematical Olympiad (BMO) di Rumania, Indonesia meraih penghargaan dua penghargaan. Peter Tirtowijoyo Young dari SMP Kristen Petra 1 Surabaya dan  Monica Vanya Santoso Kartika dari SMA Santa Angela Bandung berhasil meraih medali perunggu pada ajang BMO ke-28 tersebut. Masih pada bulan yang sama, para pelajar Indonesia berhasil meraih penghargaan di ajang 18th International Conference of Young Scientist (ICYS) di Moscow, Rusia. Dalam ajang kompetisi antar peneliti muda itu, Indonesia berhasil mengumpulkan satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu. Jessica Lo dari SMAK Cita Hati Surabaya berhasil meraih medali emas dalam bidang Environmental Science. Luthfi Mu’awan dari SMAN 1 Purwareja dan Christy Hong dari SMA St. Laurensia Tangerang meraih medali perak dalam bidang Environmental Science dan Life Science. Sedangkan Ninda Frisky dan Annisa Fitriani dari SMAN 1 Yogyakarta serta Christa Lorenzia Soesanto dari SMP St. Laurensia Tangerang meraih medali perunggu. Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) kembali berjaya di ajang 42th International Physics Olympiad (IPhO) di Bangkok, Thailand, pada bulan Juli 2011. Dari lima anggota tim yang dikirim semuanya berhasil menyabet medali IPhO ke-42 tersebut. Erwin Wibowo dari SMAK BPK Penabur Gading Serpong meraih medali emas dan Kevin Ardian Fauzie dari SMA Santa Maria Pekanbaru meraih medali perak. Sementara itu, Farhan Nur Kholid dan Fathurrohim dari SMA Sragen Billingual Boarding School serta Imam Agung Raharja dari SMA Pribadi Depok berhasil meraih medali perunggu pada ajang IPhO yang diselenggarakan di Chulalongkom University tersebut.

Tim Olimpiade Kimia Indonesia (TOKI) juga berjaya di ajang 43th International Chemistry Olympiad di Ankara, Turki, pada bulan Juli 2011 lalu. Stephen Haniel Yuwono dari SMAN 1 Purwokerto dan Joses Gradi Nthanael dari SMAK Penabur Gading Serpong berhasil meraih medali emas. Andhika Tangguh Pradana dari SMA Kharisma Bangsa Tangerang Selatan dan Alimatun Nashira dari SMAN 1 Yogyakarta juga berhasil meraih medali perak. Indonesia juga meraih tiga perak dan satu perunggu dalam ajang 22th International Biology Olympiad di Taipei, Taiwan. Marsha Christanvia dari SMAK 5 Penabur Jakarta, Thoriq Salafi dari MAN Insan Cendikia Serpong, dan Afandi Charles dari SMA 78 Jakarta meraih medali perak. Sedangkan Husni Muarif dari SMA Taruna Nusantara Magelang meraih medali perunggu.


Sekian penjelasan tentang Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan yang bisa DaunSingkong jelaskan, semoga artikel ini bisa bermanfaat dan juga bisa menjadi motivasi bagi generasi bangsa Indonesia …



Prestasi Indonesia Dalam Bidang Pendidikan

Minggu, 10 Maret 2013

Masalah Pendidikan Di Indonesia

Masalah Pendidikan Di Indonesia


Masalah Pendidikan Di Indonesia – Kenapa pendidikan di Indonesia mengalami masalah? Apa yang menyebabkan terjadinya permasalahan di Indonesia, berikut DaunSingkong akan sedikit mengulas tentang Masalah Pendidikan Di indonesia.



masalah pendidikan di indonesia

masalah pendidikan di indonesia



Masalah pendidikan adalah masalah yang benar – benar harus diselesaikan. Dikarenakan Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk Semua atau education for all (EFA) di Indonesia selalu mengalami penurunan tiap tahunnya. Pada tahun 2011 Indonesia berada diperingkat 69 dari 127 negara dan merosot 4 posisi bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang berada pada posisi 65. Indeks yang dikeluarkan pada tahun 2011 oleh UNESCO ini lebih rendah bila dibandingkan dengan Brunei Darussalam (34), serta terpaut empat peringkat dari Malaysia (65). Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya indeks pembangunan pendidikan di Indonesia adalah tingginya jumlah anak yang putus sekolah. Kurang lebih ada setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) yang tidak dapat melanjutkan pendidikan. Data pendidikan tahun 2010 juga menyebutkan 1,3 juta anak usia 7-15 tahun terancam putus sekolah. Bahkan laporan Departeman Pendidikan dan Kebudayaan menunjukan bahwa setiap menit ada empat anak yang putus sekolah.


Peran Pendidikan dalam Pembangunan


Peran pendidikan dalam pembangunan adalah menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan beberapa tahun kedepan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan membahas mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya. Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.


Solusi Permasalahan Pendidikan


Hingga saat ini, perhatian pemerintah kita akan masalah pendidikan masih sangat minim. Fakta ini merupakan kesimpulan dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Pendidikan yang buruk itu akan berdampak besar pada negara kita, yang mana cepat atau lambat negara kita akan terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.


Dalam menyelesaikan masalah pendidikan jangan sampai monoton,  tetapi harus dilakukan dengan langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.  Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, nantinya akan terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah – olah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim. Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”


Mewujudkan Pendidikan yang Berkualitas


Kalimat yang sering muncul dan diduga menjadai salah satu faktor yang mempengaruhi tentang perkembangan pendidikan adalah.”Pendidikan bermutu itu mahal”.  Salah satu alasan yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah adalah karena Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT). Bahkan dari faktor tersebut melahirkan slogan “Orang miskin tidak boleh sekolah”. Saat ini saja membutuh biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000 untuk bisa masuk TK dan SDN. Bahkan ada yang memungut sampai di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok “sesuai keputusan Komite Sekolah”.  Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang yang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.

Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.


Melemahnya Peran Negara Dalam Sektor Pelayanan Publik


Semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik atau Privatisasi tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang Indonesia kepada luar negeri sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).


Dalam catatan APBN pada tahun 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN . Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin. Hal serupa juga dituturkan oleh pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasikan pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.


Beberapa masyarakat tertentu menganggap, bahwa beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Perancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.


Demikian sedikit ulasan mengenai permasalahan tentang pendidikan yang terjadi di Indonesia, semoga artikel ini bisa menjadi pendorong bagi para pembaca agar lebih peduli betapa pentingnya peran pendidikan dalam pembangunan.



Masalah Pendidikan Di Indonesia

Selasa, 05 Maret 2013

Seleksi Beasiswa Etos 2013

Seleksi Beasiswa Etos 2013  – Beastudi Etos, adalah Program investasi SDM, yang fokus pada pembinaan, pendampingan dan pemberdayaan mahasiswa untuk Indonesia unggul dan berdaya.

Beastudi Etos memiliki visi: Terdepan dalam membentuk SDM berkarakter untuk Indonesia unggul dan berdaya. Beastudi Etos ingin melahirkan generasi-generasi excellent bagi bangsa ini. Beastudi Etos berusaha menghadirkan pejuang-pejuang baru yang gigih memperjuangkan masa depan bangsa ini, dengan keunggulan dan kemandirian yang mereka miliki.



Seleksi Beasiswa Etos 2013



Untuk menghasilkan generasi yang hebat ini, Beastudi Etos memiliki misi:



  • Menerapkan manajemen mutu dalam pengelolaan program beastudi etos

  • Mengembangkan dan menerapkan kurikulum beastudi etos yang berbasis karakter dan potensi individu

  • Mengoptimalkan peran pemberdayaan sebagai ruang tumbuh SDM berkarakter

  • Menyinergikan program dengan kearifan lokal

  • Membangun dan mengoptimalkan jaringan beastudi Etos


Beastudi Etos saat ini tersebar di 13 wilayah dan 15 PTN dengan penerima manfaat sebanyak 399 orang dan 612 alumni. Adapun 13 wilayah persebaran program beastudi Etos adalah Aceh, Medan, Padang, Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Samarinda, Makassar dan Ambon. Dengan PTN sebagai berikut : Universitas Syahkuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Hasanudin dan Universitas Pattimura.
Fasilitas yang diberikan :



  • SPP semester I dan II

  • Uang saku Rp. 500.000 per bulan selama empat tahun

  • Akomodasi asrama selama tiga tahun. Asrama adalah media pembinaan dan pendampingan intensif para etoser guna mencetak pribadi dan komunitas produktif. Asrama juga dikelola untuk meningkatkan kebersamaan dan loyalitas etoser dan menjadi bagian dari sistem kerja utama program Beastudi Etos

  • Pelatihan, pembinaan dan pendampingan  selama 4 tahun. Secara umum ada tiga bagian pembinaan, yaitu pembinaan asrama (harian), pembinaan rutin (pekanan) dan pembinaan nasioal (tahunan). Pelatihan, pembinaan dan pendampingan ini dilakukan berdasarkan kurikulum berbasis karakter dan potensi individu guna pengembangan prestasi.


Persyaratan Umum:



  • Lulus SMA/sederajat dan akan masuk Perguruan Tinggi melalui jalur SNMPTN atau SBMPTN atau UM Jalur reguler

  • Diterima pada PTN dan jurusan yang direkomendasikan Beastudi Etos (Daftar PTN dan jurusan yang direkomendasikan dapat dilihat di www.beastudiindonesia.net


Persyaratan Khusus :



  • Berasal dari keluarga tidak mampu

  • Melampirkan surat keterangan tidak mampu dan slip gaji/surat keterangan penghasilan orang tua dari ketua RT/DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) setempat.

  • Mengisi Biodata Pendaftar  yang bisa didapat di asrama Beastudi Etos maupun di-download di www.beastudiindonesia.net

  • Mengisi dan menandatangani akad Beastudi Etos (bisa di-download didapat di asrama Beastudi Etos maupun di-download di www.beastudiindonesia.net

  • Fotokopi raport SMA semester 1-5, Kartu Keluarga, KTP atau kartu pelajar dan STTB bagi yang telah lulus SMA/sederajat

  • Foto terbaru 4 x 6, 2 lembar

  • Foto rumah (tampak keseluruhan, ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur)

  • Membuat tulisan tentang kisah perjalanan hidup sepanjang minimal 2 halaman folio (tulis tangan)


Tahap-Tahap Seleksi : Seleksi Administrasi, Seleksi Tulis  dan Wawancara, Home Visit, dan lolos di PTN dan jurusan rekomendasi Beastudi Etos melalui jalur regular)


Waktu Pendaftaran : 7 Januari – 31 Maret 2013

Seluruh berkas pendaftaran silahkan dikirimkan ke Asrama Beastudi Etos Daerah terdekat.



Seleksi Beasiswa Etos 2013

Penerimaan Peserta Didik Baru MAN 3 Malang 2013

Penerimaan Peserta Didik Baru MAN 3 Malang 2013 -Tiba-tiba inget ma dua keponakan yang mau lulus SMP. Hmmm browsing sana-sini nyariin SMA unggulan. Ketemu dech ma salah satu sekolah yang kata Pak Mentri Agama layak untuk jadi percontohan MAN nasional. Ya, MAN 3 Malang.



Penerimaan Peserta Didik Baru MAN 3 Malang 2013

Penerimaan Peserta Didik Baru MAN 3 Malang 2013



MAN 3 Malang membuka seleksi pendaftaran siswa baru untuk tahun ajaran 2013/14. Seleksi ini terbilang berbeda dengan sebelumnya. Ada lima jalur yang dipakai tahun ini yaitu Jalur Prestasi, Jalur Terpadu, Jalur Abdi Negara, Jalur Bea Siswa, dan Jalur Ujian Tulis.

Seperti apa agenda MAN 3, liat ya…



















































































No


Kegiatan


Waktu


1


Persiapan


14 Jan s/d 2 Feb 2013


2


Publikasi


2 Feb s/d 30 Mei 2013


3


Pendaftaran PPDB Jalur Prestasi, Jalur Terpadu, Jalur Abdi Negara


18-28 Maret 2013


4


Seleksi tes PPDB Jalur Prestasi


29 Maret – 30 Maret 2013

Tidak ada ujian tulis/seleksi Administrasi


5


Seleksi tes PPDB Jalur Terpadu, Jalur Abdi Negara


29 Maret – 30 Maret 2013


6


Pengumuman hasil seleksi tes PPDB Jalur Prestasi, Jalur Terpadu, Jalur Abdi Negara


6 April 2013


7


Rapat orang tua siswa baru yang diterima pada Jalur Prestasi, Jalur terpadu, Jalur Abdi Negara


6 April 2013


8


Daftar ulang PPDB Jalur Prestasi, Jalur Terpadu, Jalur Abdi Negara


6 – 13 April 2013


9


Pendaftaran Jalur Bea Siswa dan Jalur Ujian Tulis


13 – 23 Mei 2013


10


Seleksi Jalur Bea Siswa dan Jalur Ujian Tulis


24 – 25 Mei 2013


11


Pengumuman hasil seleksi tes PPDB Jalur Bea Siswa dan Jalur Ujian Tulis


1 Juni 2013


12


Rapat orangtua siswa baru yang diterima pada Jalur Bea Siswa dan Jalur Ujian Tulis dengan komite


1 Juni 2013


13


Daftar ulang PPDB Jalur Bea Siswa dan Jalur Ujian Tulis


1 – 8 Juni 2013


14


Masuk Madrasah


1 Juli 2013


15


Masuk Tahun pelajaran 2013-2-14


15 Juli 2013



Selengkapnya, liat aja di http://www.man3malang.com


Penerimaan Peserta Didik Baru MAN 3 Malang 2013